Radio Komponen Tools Jaringan Koneksi SIgnal Frekuensi

Thursday, December 27, 2018

DIMANA POSISI TERBAIK UNTUK MEMASANG SWR METER ?



Sumber artikel ini saya ambil dari postingannya Om Djoko Haryono di Facebook Group HOME BREW PROJECT ( CB RADIO, ANTENNA, SWR, AUDIO, MICROPHONE, BOOSTER, etc )


DIMANA POSISI TERBAIK UNTUK MEMASANG SWR METER ?




Isipan catatan ( pengamatan ) pribadi : Polemik atau diskusi semacam ini sudah saya baca di majalah amatir radio Amerika & Inggris ( QST dsb ) sejak puluhan tahun lalu. Berdasar pengamatan itu saya memberanikan diri untuk meyakini bahwa masalah yang “susah2 gampang” atau “sepele” ini MASIH AKAN TERUS ADA YANG MENDISKUSIKAN / MEMPERDEBATKANYA SAMPAI PULUHAN TAHUN KEDEPAN. Bagi sebagian orang hal ini dianggap sepele ( mungkin juga karena terlalu rumit memahaminya ) tetapi bagi HANYA SEBAGIAN KECIL HAM ( terutama bagi mereka yang suka mempelajari masalah2 paling dasar dari transmission lines ) mereka akan bisa memahami apa saja yang sebenarnya bisa terjadi pada tiap titik sepanjang saluran transmisi ). Jadi sekali lagi , JANGAN TERKEJUT jika suatu ketika –PULUHAN TAHUN KEDEPAN- anda membaca ulang jenis perdebatan yang sama tapi dilakukan oleh kelompok atau orang2 berbeda.

DIMANA POSISI TERBAIK UNTUK MEMASANG SWR METER ?

Didekat antenna ataukah didekat transceiver ?

Kedua – duanya sama baiknya , ASALKAN PRAKTISI / PEMILIKNYA MEMAHAMI BETUL APA KONSEKWENSI DARI PILIHANNYA.

Saya berikan ringkasan sbb. :

001
Jika yang diinginkan adalah akurasi pembacaan SWR maka lokasi / posisi pemasangan terbaik adalah diatas ( didekat antenna ).

002
Jika yang dimaksudkan dengan “terbaik” itu adalah segi KEPRAKTISAN kerja , maka yang terbaik adalah SWR meter dipasang dekat transceiver ( di ham shack / ruangan pemancar ) , dengan syarat , praktisi / operatornya HARUS PAHAM bahwa pemasangan didekat pemancar itu memiliki 2 kemungkinan :

AAA
SWR meter BISA memberikan penunjukan akurat.
Artinya bisa menunjukkan nilai SWR yang sebenarnya ( “nilai SWR antenna yang berada jauh diatas sana dan mengirimkan nilai itu kebawah untuk dibaca langsung dari jauh/dari bawah” dalam keadaan bacaan yg masih sama dengan kalau meternya diatas ).

BBB
Tetapi pada kondisi2 tertentu ( yg ini sebenarnya cukup sering terjadi tanpa disadari oleh operator ) SWR meter juga bisa/sering menipu ( berbohong ). Nilai yang ditunjukkannya BUKAN NILAI SWR YANG SESUNGGUHNYA.
Angka palsu ( bo’ong ) yang lebih sering muncul adalah penunjukan SWR yang lebih rendah dari SWR real yang terjadi/muncul ( diatas sana / di antenna ).

Nah , PADA KONDISI APA/BAGAIMANA penunjukan SWR meter yg dipasang didekat TX itu bisa terjadi ? itulah yang membutuhkan pemahaman yang lebih mendalam tentang kabel saluran transmisi ( sebetulnya bukan hanya bisa terjadi pada kabel tetapi juga bisa terjadi pada wave guide atau “talang udara” saluran gelombang antara TX dengan antenna pada microwave : radar dsb ) dan juga pemahaman rambatan gelombang.

003
Pada dekade2 awal diciptakan / ditemukannya SWR meter , pengukuran SWR dilakukan didekat antenna. Ya itu wajar saja karena kondisi mismatch itu adanya / letaknya ada diantara antenna dan ujung atas coax , DAN BUKAN DIBAWAH DEKAT PEMANCAR ( kalau ujung bawah coax sudah tidak perlu diukur lagi karena terminal output TX sudah didesign 50 ohm dan impedansi karakteristik coax yg dihubungkan kesana juga sudah 50 ohm , jadi sudah match )

Tapi melakukan pengukuran SWR didekat antenna pada masa itu tidaklah serepot seperti kalau dilakukan pada era sekarang. Mengapa ? Karena jaman dulu SWR itu cukup diukur 1 X saja KARENA SEMUA SIARAN RADIO / KOMUNIKASI HANYA DILAKUKAN PADA ( SATU ) FREKUENSI PILIHAN TERTENTU.
Setelah antenna dibuat , dinaikkan , diukur , di stel dan lalu sudah match , ya sudah , SWR meter dilepas lagi , ujung atas kabel disambung langsung ke antenna , lalu siaran / atau adakan QSO dan nggak perlu lagi tiap hari naik turun mengukur SWR.

004
Tetapi setelah kemudian ditemukan pemancar2 multi band ( yang bisa berpindah pindah frekuensi kerja ) , pengukuran yang dilakukan didekat antenna MENJADI SANGAT MEREPOTKAN JIKA ORANG HARUS SERING “naik turun” tower , tiang atau tangga.

Maka ditemukanlah “akal” untuk membuat agar pengukuran bisa dilakukan secara lebih praktis , yaitu pindah dari “ujung atas coax” ke “ujung bawah cox” alias didekat TX.

Itulah sebabnya lama2 “seluruh” pengukuran SWR meter sekarang dilakukan dibawah diruangan TX ( didekat TX ). SATU2 NYA ALASAN UNTUK ITU ADALAH “DEMI KEPRAKTISAN KERJA” SAJA.

Kata “seluruh” diatas saya beri tanda kutip karena sebetulnya tidak benar2 seluruh pengukuran SWR. Sebagian para ahli radio yg berpengalaman masih sering mengukur SWR dengan menempatkannya didekat antenna. Ini paling banyak dipraktekkan pada pemancar2 yangmemancar hanya pada 1 fixed frequency yaitu umumnya pada saat men-setting antenna Repeater ( naik mendekati antenna bisa dilakukan dengan mudah karena repeater yang sudah ditempatkan diketinggian gunung tidak memerlukan tower tinggi lagi tapi umumnya sudah cukup menggunakan tiang rendah saja ).

005
Pada kondisi2 tertentu SWR meter yang dipasang didekat TX mudah menunjukkan penunjukan palsu / semu karena kebanyakan SWR meter melakukan pengukuran dengan berbasis tegangan / mengambil Voltage sampling dari saluran / coax – padahal yang akan “dihitung” adalah power / watt maju dibanding power pantulan- ( itulah sebabnya SWR meternya disebut Voltage Standing Wave ratio ).

Kalau diinginkan pengukuran SWR ( yang dipasang didekat TX ) yang lebih akurat , maka sebaiknya tidak menggunakan meter yang mengambil sampling voltage seperti hampir semua SWR meter yang banyak dipasaran , melainkan menggunakan SWR meter “Yang Sebenarnya” alias “Yang langsung mengukur power / watt” atau seing disebut “Thrue line Watt meter” atau “Real watt meter” seperti yang tampak pada gambar diatas” ( digambar tampak 2 alat ukur. Yang dibawah VSWR meter dan yang diatasnya SWR meter jenis Thru line Watt Meter yang tentu saja mahal harganya. Yang ada digambar adalah produk lama , namun produk2 terbaru bentuknya masih tetap mirip dengan model lama itu )

006
AGAR KITA BISA BEKERJA LEBIH PRAKTIS ( TIDAK PERLU TURUN NAIK MENDEKATI ANTENNA ) , SWR METER KITA PASANG DIBAWAH , DIRUANGAN TX. TADI DIKATAKAN BAHWA KALAU SWR DIPASANG DISINI ( SEBELUM COAX ) MAKA PENUNJUKAN SWR BISA BENAR TETAPI JUGA BISA PALSU / SEMU ( = MENIPU ).

LALU BAGAIMANA CARANYA AGAR KITA TETAP BISA MEMASANG SWR DIBAWAH SEPERTI ITU , TETAPI KITA JUGA TERHINDAR DARI “DITIPU” PENUNJUKAN SWR YG. MENUNJUKKAN ANGKA PALSU ( YANG KEBANYAKAN LEBIH RENDAH DARI NILAI YANG SEBENARNYA ) ?

Wah ini penjelasannya bisa panjang lebar ( sangat teknis ). Tetapi karena saya sudah sering menuliskannya , maka akan lebih praktis kalau saya tidak perlu mengulangnya lagi untuk kesekian kalinya.

Ada baiknya coba ditelusuri lagi ( pada Timeline FB ) tulisan2 seputar hal ini di FB Group ORARI (Organisasi Amatir keajaiban arsitektur besar Indonesia) atau di FB Group HOME BREW PROJECT (CB Radio , Antenna , SWR , Audio , Microphone , Booster , etc). Ada banyak saya tulis dan cukup panjang/detil. Tapi semua tanggalnya saya tidak ingat. Mungkin 4 bulan lalu , ada yang 5 atau 6 bulan lalu dsb. Jadi ya perlu menelusuri sendiri.

007
Sebetulnya bisa dihitung secara teoretis kok , kalau misalnya kita bekerja di 2 meter band pada frekuensi X , kondisi SWR diujung atas dekat antenna misalnya sebesar Y ( atau bisa juga misalnya impedansinya terukur sekian plus atau minus j sekian ohm ) , panjang coax nya 7,25 lambda electric , maka berapakah angka “palsu” yang akan ditunjukkan oleh SWR meter yang dipasang dekat TX.
Ya itu bisa dihitung.

Atau contoh lain :

Kita punya antanna 5 band ( multiband ) yang terdiri dai 5 bh half wave dipole yang digabungkan feed point nya menjadi 1 agar bisa dicatu dari 1 coax yang sama. Antenna sudah di set dan ke 5 nya. Pengukuran “diatas” sana misalnya menunjukkan SWR = 1,7 : 1 sedangkan kalau dibawah terukur 1,1 : 1

Dan pada kondisi itulah TX bekerja sehari-hari ( ini hanya pemisalan )

Suatu hari , tiba2 SWR ( yang terpasang dibawah ) menunjukkan ada perubahan penunjukan pada 80 meter band nya , mendadak SWR terbaca 1,5 : 1. Kita yakin terjadi sesuatu gangguan atau kerusakan pada system antenna kita.
Maka itupun bisa dihitung dibawah sebelumnya untuk mengetahui …. “Menjadi berapakah nilai SWR atas ( jika akan diukur diatas ) ?”

Tentu saja kalau kita ingin bisa mengetahui “apakah nilai pembacaan SWR dibawah akan Real , ataukah yang akan muncul justru penunjukan palsunya ( dan berapa nilai palsu yang akan ditunjukkan SWR ) , maka kita perlu menguasai dulu cara menghitung menggunakan tabel Smith ( SMITH CHART ) yaitu salah satu “senjata rahasianya para ahli radio / saluran transmisi”.

Silahkan dipelajari misalnya dari beberapa link berikut ini :

APAKAH SMITH CHART ( TABEL SMITH ) ITU
http://en.wikipedia.org/wiki/Smith_chart

TABEL SMITCH CHART http://www.acs.psu.edu/drussell/Demos/SWR/SmithChart.pdf

CONTOH PENGGUNAAN SMITH CHART
http://nanohub.org/resources/11811/download

BELAJAR SMITH CHART 1.
http://www.ieee.li/pdf/viewgraphs/smith_chart_tutorial.pdf

BELAJAR SMITH CHART 2
Disini ada slide ruler yg bisa anda geser2 untuk mempelajari perubahan2 kondisi.
http://www.fourier-series.com/rf-concepts/smithchart.html

CONTOH 2 MENGHITUNG MENGGUNAKAN SMITH CHART
http://www.maximintegrated.com/app-notes/index.mvp/id/742

BEBERAPA CONTOH LAIN PENGGUNAAN
http://www.youtube.com/watch?v=zzXs0DtnFQ4

Setelah kita memahami masalah gelombang radio / matching tsb dengan mengenal sifat2 distribusi gelombangnya maupun “pengulangan2 / terulangnya transformasi impedansi” MAKA KITA AKAN MAKIN MEMAHAMI MENGAPA KALAU SWR METER DIPASANG DIDEKAT TX , DIA BISA MENUNJUKKAN NILAI YANG BENAR ( REAL ) TETAPI JUGA BISA MENIPU KITA DAN MENUNJUKKAN NILAI SWR YANG PALSU.

Jadi sebaiknya kita JANGAN BURU2 SENANG kalau SWR meter kita ( yg didekat TX ) menunjukkan angka yang rendah atau bahkan nyender tidak bergerak di 1 : 1.

Kalau angka itu memang nilai real yg ditunjukkan , ya nggak apa2. Kita memang harus senang. Tapi banyak sekali kejadian operatornya “keburu” bangga karena SWR nya terbaca rendah , padahal meternya sedang menipunya. Kalau ini yang terjadi , maka anda sebenarnya sedang bekerja dengan effisiensi rendah ( meskipun anda merasa sudah berhasil melakukan QSO jarak jauh , tetapi seharusnya anda bisa “lebih jauh lagi”. Jauh tidaknya pancaran kita , tidak hanya ditentukan oleh .... “angka rendah berarti SWR kita sudah optimal / baik dan antenna kita sudah baik” saja , melainkan juga ditentukan oleh : 1. Propagasi. 2. Seberapa kuat antenna station lawan ).
Smith chart - Wikipedia, the free encyclopedia
en.wikipedia.org
The Smith chart, invented by Phillip H. Smith (1905–1987),[1][2] is a graphical aid or nomogram designed for electrical and electronics engineers specializing in radio frequency (RF) engineering to assist in solving problems with transmission lines and matching circuits.[3] Use of the Smith chart ut...

Dibawah ini adalah contoh diskusi tentang “Dimanakah penempatan SWR yang akan memberikan hasil pembacaan yang lebih akurat ?”

( tetapi apa yang dibahas dinegara lain ini agak sedikit berbeda , sebab yang terlibat tidak hanya TX – Coax – dan Antenna saja , melainkan juga ada Amplifier / Booster. Pada diskusi yang lain lagi dan bukan dicontoh dibawah ini , keberadaan Tuner juga jadi bahasan mengenai “SWR nya ditaruh dimana ?”. Namun saya tidak akan membahas yang lain2 itu , melainkan saya hanya ingin menunjukkan bahwa di manca Negara / luar negeripun ada bermacam tingkat pemahaman ).

Pada contoh2 diskusi yang ada pada link dibawah , juga ada sebagian pemahaman peserta diskusi yang keliru. Namun saya juga tidak akan membahas yang keliru itu.

Dalam link dibawah ini SAYA HANYA INGIN MENUNJUKKAN SATU CONTOH saja dari salah seorang peserta diskusi ( Joey Migs ) yang mengatakan :

SWR is totally unaffected by length of transmission line. The apparent change in SWR is due to the properties of the SWR meter and not the SWR itself. It is only when you use a current-(ISWR) or voltage-based (VSWR) SWR meter (which most are) that the SWR seems to be affected by line length. SWR is the ratio of impedance not the ratio of Voltage or Current. True SWR is Load impedance/Surge impedance or surge impedance/load impedance depending on which is the greater value.

Yang terjemahan bebasnya adalah :

SWR ( maksudnya nilai SWR yang ada diantara antenna dan coax ) tidak dipengaruhi oleh panjang kabel coax. Jika terjadi PERUBAHAN PEMBACAAN SWR ( yang umumnya dipasang dibawah / dekat TX ) itu adalah disebabkan oleh SWR METER nya sendiri dan BUKAN KARENA NILAI SWR REALNYA ( yang ada antara antenna dan ujung atas coax ) yang berubah.

DAN PERUBAHAN PENUNJUKAN SEMACAM ITU ( MAKSUDNYA ADALAH BACAAN ATAU PENUNJUKAN PALSU METER YANG PALSU , TIDAK MENUNJUKKAN NILAI SEBENARNYA ) HANYA BISA TERJADI KALAU ANDA MENGGUNAKAN VSWR METER ATAU ISWR METER ( SWR meter yang mengambil sampling voltage atau SWR meter yang menggunakan sampling arus ) , SEPERTI KEBANYAKAN / HAMPIR SEMUA YANG DIJUAL DIPASARAN. SWR JENIS VSWR MAUPUN JENIS ISWR MEMANG PENUNJUKANNYA BISA DIPENGARUHI OLEH PANJANG COAX. Ingat bahwa SWR adalah Ratio dari Impedansi DAN BUKAN RATIO DARI TEGANGAN ATAU ARUS sehingga kalau alat yang anda gunakan berbasis tegangan atau arus , ia akan bisa salah baca ( salah penunjukan ).

SWR YANG “BENAR2 SWR METER” ADALAH METER YG DASAR KERJANYA MENGUKUR IMPEDANSI BEBAN / IMPEDANSI SURJA ATAU IMPEDANSI SURJA / IMPEDANSI BEBAN ( yang dimaksud penulis disini adalah sama dengan SWR meter jenis THRULINE WATT METER dalam tulisan saya sebelum ini ).

Bagi saya , penulis yang satu ini ( Joey Migs ) saya anggap memahami betul masalah SWR.

http://www.copper.com/discus4/messages/34/105164.html?1265485401
Copper Talk: Proper SWR Meter Placement For True/Accurate Reading
www.copper.co

Sekarang kita perhatikan jawaban seorang amatir radio . Mike / N2MG pada diskusi yang lain lagi dengan topik yang sama ( penempatan SWR meter dan pengaruhnya ).
Mike:
While these may be "elementary" questions, they are still very legitimate.

Improved SWR readings with longer cable is usually caused simply by the increased loss of the cable. RG-8/RG-213 coax has approx 2.5dB loss per 100feet at 2meter frequencies (this loss is worse at higher freq, better at lower freq). So any reduction in reflected power (for the same forward power) will make the SWR look better. In most cases, as in your case, I'm sure, the SWR meter is near the transmitter end, so by adding 80 feet to the line, any reflected power seen at the radio/SWR meter is reduced by the loss of 160 feet of coax and the forward power measured is NOT reduced. This is because the forward power is reduced by the loss of 80 extra feet of coax on the way TO the antenna, then once reflected, it sees another 80feet of loss on the return trip to the radio/SWR meter.

If you located your SWR bridge near the antenna, you'd get a much more accurate reading.

Formulas and graphs get a little cumbersome in this forum, so try to look up SWR in a handbook.

And no, your coax is not radiating - all the loss is in heat form.

Hope this helps.

73 Mike N2MG

Disini juga jelas bahwa Mike sudah biasa/sering berurusan dengan topik SWR karena ia menyebut bahwa jenis pertanyaan ttg. “Penempatan SWR” maupun “hubungan penunjukan semu/palsu dari SWR dengan panjang kabel” adalah masalah pengetahuan dasar / elementary ( yang sangat perlu untuk dipahami betul oleh setiap ham ).

Namun disini kasusnya juga berbeda , yaitu ketika seseorang memiliki kabel coax yang kependekan ( entah kependekan waktu beli/salah ukur , ataukah karena ruangan TX nya pindah sehingga butuh coax lebih panjang ) maka ia menambah panjang coaxnya. Ternyata penunjukan SWR nya MALAH menjadi makin rendah ( atau disebut penunjukannya membaik/meningkat ).

Dari pertanyaan seseorang itu , Mike langsung berani menebak ….. “pasti anda memasang SWR meter tersebut didekat TX !!” …. Mike berani memastikan ( menebak ) semacam itu –seperti saya juga pasti akan menebak hal yang sama- ………. karena Mike TAHU BETUL bahwa kasus semacam itu TIDAK AKAN PERNAH MUNCUL jika SWR kita pasang didekat antenna ( jika SWR meter didekat antenna , berapapun panjang coax - atau meskipun coax dipotong sedikit demi sedikit - penunjukan SWR meter tidak akan berubah. SWR BARU AKAN BERUBAH JIKA IMPEDANCE ANTENNA BERUBAH alias antenna dirubah settingannya ).
Mike juga menjelaskan ….. “kalau anda menempatkan SWR meter didekat antenna , penunjukan meter anda akan lebih akurat !” ……..

Dari diskusi ini saya juga termasuk orang yang yakin bahwa Mike cukup menguasai masalah SWR meter dan saluran transmisi karena ia paham bahwa SWR meter yg ditempatkan didekat antenna akan “hanya melihat kondisi SWR/mismatch yang ada” saja serta tidak mudah terganggu oleh masalah losses kabel , masalah efek transformasi impedansi dsb.” ( meskipun seorang ham yang berpengalaman JUGA BISA SAJA sudah tahu caranya meminimalisir / menghindari penunjukan palsu / semu SWR meter nya jika dipasang didekat TX )
Dibagian lain , ada komentar amatir radio lainnya , William / N4QA ( dalam tulisan ditulis Bill karena dibarat orang yg bernama William panggilannya biasanya Bill ) :

……. that the coax is terminated at both ends in its characteristic impedance such as 50 ohms. In the case of 50 ohm coax, if the rig's output impedance is 50 ohms, the ONLY instance of a vswr (or iswr) of 1 as measured by an swr bridge...(lets measure at the rig end of the circuit for convenience)... is when the impedance presented at the load (antenna or matching device) end of the circuit is 50 ohms resistive.

Disini Bill juga sangat paham bahwa kasus “penunjukan SWR yg menipu/palsu” itu hanya bisa terjadi jika SWR meter yang kita pakai adalah jenis VSWR atau jenis ISWR ( bukan WSWR / thruline Wattmeter ). Disini Bill juga langsung menebak bahwa “SWR meternya pasti anda pasang didekat rig demi kenyamanan anda”/ lets measure at the rig end of the circuit for convenience.

Demikianlah , menurut saya , apa yang terjadi pada kasus2 semacam ini , sering kali mudah untuk ditebak oleh para ham yang rajin mendalami masalah matching sampai ke basicnya ( ke masalah radiasi/rambatan gelombang , kabel transmisi dsm ).

coax feedline length and SWR
www.eham.net
Bill Allen: Good Morning,I have questions concerning SWR and coax feedline length.  I am using a homebrew SuperJ antenna at home for 2 meter operations.  The antenna is mounted on the top of my tower at about 40ft.  The existing coax to this antenna is about 55ft.  When I xmit a 50wts, I get an SWR…
 

PANJANG CONNECTOR , SAMBUNGAN CONNECTOR , PENANGKAL PETIR DSB. ( APAPUN ) YANG ADA DISEPANJANG COAX ( ANTARA ANTENNA & SWR METER DIDEKAT TX ) HARUS IKUT “DIHITUNG” !!





PANJANG CONNECTOR , SAMBUNGAN CONNECTOR , PENANGKAL PETIR DSB. ( APAPUN ) YANG ADA DISEPANJANG COAX ( ANTARA ANTENNA & SWR METER DIDEKAT TX ) HARUS IKUT “DIHITUNG” !!

By: Djoko Haryono

Topik ini adalah "sempalan" ( Jawa "cuilan" ) dari diskusi lain bertopik "Nilai SWR diperkecil , power juga ikut mengecil , mumet !" yang ditulis Setyo Wibowo 10 August 2014 10:06pm di group K.A.I.

Karena comment saya disitu sudah mulai "berbelok" ke masalah berbeda ( connector ) maka saya "cuil" sebagian bahasan itu menjadi topik baru agar ( kalau bisa ) tidak terlalu mengganggu diskusi ditopik aslinya.

Itu ada beberapa sumber kemungkinannnya , tapi kemungkinan yang paling besar adalah "nilai / penunjukan SWR yang anda baca itu adalah nilai semu , bukan nilai SWR sebenarnya".

SWR meter mudah /sering membohongi kita dan memberikan penunjukan palsu. Hal seperti itu TERKADANG terjadi ( = terjadinya "transformasi" atau perubahan nilai impedansi. Nilai impedansi diujung bawah coax muncul berbeda dengan nilai impedansi / matching yg sebenarnya. Nilai seberapa match/unmatch antenna itu SEBENARNYA LETAKNYA YA DI TITIK SAMBUNGAN ANTENNA , DIUJUNG ATAS COAX SANA ! Jadi nilai kecocokan antenna itu tempatnya sebetulnya bukan didekat TX ).

Tipuan oleh SWR meter semacam ini mudah terjadi ketika/jika kondisi impedansi antenna masih reactive ( belum resistive ).

Coba anda pindahkan ( sementara ) SWR meter anda kedekat antenna ( diatas tiang , diujung atas coax ) , maka kemungkinan besar , angka SWR yang dibawah terbaca rendah itu , kalau diatas -yg diukur betul2 matching antenna- penunjukan SWR nya ternyata tinggi !!

Kalau anda tetap ingin ( bisa ) membaca SWR meternya dibawah , didekat TX , diruang station , tapi tidak ingin / mau ditipu oleh SWR meter ( yg memang kadang2 berbohong jika kita salah menggunakannya ) , ya rubahlah panjang coax nya.

Tapi ingat : Coax TIDAK BOLEH & TIDAK BISA dipakai untuk menyetel matching antenna. Untuk me matchingkan ya harus antennanya yg di stel atau menambahkan matching device.

Jadi disini ( yg saya sarankan ini ) merubah panjang coax , BUKAN untuk merubah kondisi unmatch yg masih terjadi di antenna lho , tapi hanya untuk "membuang" sifat suka berbohong yg dimiliki SWR meter yg memakai sistem berbasis voltage atau current -dan tidak terjadi pada SWR meter jenis thruline wattmeter yg berbasis daya-

Rubah panjang coax anda menjadi :

1. "Panjangnya merupakah kelipatan 1/2 lambda electric ( yg disebut lambda elektrik , bukan fisik , adalah velocity factor dari coax yg dipakai harus ikut diperhitungkan".

Kalimat diatas itu punya arti sama dengan kalimat2 lain yaitu :

2. Merupakan kelipatan dari 1/2 lambda effektif.
3. Merupakan KELIPATAN GENAP dari 1/4 lambda elektrik.
4. Merupakan KELIPATAN GENAP dari 1/4 lambda effektif.

Begitu coax anda panjangnya sesuai prosedur "anti tipu2" diatas , maka -tanpa antenna anda rubah dulu- yang akan terbaca nanti adalah SWR anda ( sebenarnya ) masih tinggi. Hasil pengukurannya akan sama dengan kalau SWR meter anda anda pasang di antenna / diatas.

Setelah anda tahu SWR anda masih tinggi , barulah stel kembali antenna anda sampai SWR nya terendah.

( kalau setelah itu swr anda sudah benar2 rendah , ANDA BEBAS memakai panjang coax berapapun !! tanpa ditipu SWR meter lagi. Tapi pengertian dari "panjang berapapun" itu harus dalam batas2 total lossesnya tidak boleh sampai tinggi lho ya ! ).

PANJANG CONNECTOR , SAMBUNGAN CONNECTOR , PENANGKAL PETIR DSB. ( APAPUN ) YANG ADA DISEPANJANG COAX ( ANTARA ANTENNA & SWR METER DIDEKAT TX ) HARUS IKUT “DIHITUNG” !!

Apa yang saya tulis berikut ini , meski sudah saya tulis disini , saya masih akan mengulangnya menuliskannya lagi ( bisa secara lebih detil tapi juga bisa saya akan pertahankan tulisan yang singkat sederhana ) dlm. 1 atau beberapa hari kedepan , memisahkannya kedalam sebuah judul topik baru , artinya keluar dari diskusi ini.

Mengapa demikian ? Karena menurut pengamatan saya selama ini , masalah “panjang coax itu berarti TERMASUK panjang connector2 nya” ini adalah masalah yang masih sangat minim / kurang / belum diketahui atau disadari oleh sebagian besar praktisi.

Dalam tulisan saya sebelum ini , saya membahas tentang “panjang coax ( saluran transmisi ) yang dibuat agar panjangnya merupakan KELIPATAN ½ LAMBDA ELECTRIC akan menjadikan VSWR Meter kita “tidak lagi suka / bisa berbohong” atau menipu kita dengan ( terkadang ) menampilkan penunjukan nilai SWR yang semu/palsu ( yang umumnya lebih rendah dari kondisi real yang “dihasilkan” antenna kita ).

Dari link yang saya sertakan pada akhir tulisan ini ( yang isinya penjelasan mengenai kompleksitas impedansi yang bisa muncul pada kabel saluran transmisi ) , pada halaman 10 dijelaskan bahwa pada suatu saluran transmisi yang sedang bekerja yang panjangnya merupakan KELIPATAN ( MULTIPLE ) DARI ½ LAMBDA ELECTRIC FREKUENSI KERJANYA ( atau bahkan juga pada SETIAP TITIK yang berjarak kelipatan ½ lambda electric disepanjang kabel ) , maka kondisi atau situasi pada titik2 tersebut mirip sebuah KACA CERMIN ( MIRROR ) dimana disitulah situasi IMPEDANSI REAL YANG ADA DARI ANTENNA atau INPUT ( dalam memperhitungkan masalah timbulnya gelombang pantulan / reflected dari arah antenna yg kembali kearah pemancar maka titik feedpoint antenna kita anggap sebagai titik inputnya dan titik TX / ujung bawah coax sebagai outputnya ) AKAN SELALU TERULANG “TERLIHAT” ( MUNCUL ) DALAM KONDISI YANG SAMA.

Ada juga sebagian ahli yang menyebut titik2 yang berjarak ( kelipatan dari ) ½ lamba electric itu sebagai titik2 “REPEATER” karena disana besaran2 impedansi antenna akan terbaca kembali. Sedangkan pada titik2 lainnya situasinya berbeda lagi ( kalau diukur , impedansi yang terbaca akan berbeda dengan impedansi real yang terukur dititik antenna ).

If you have a length of line that is an exact electrical half wavelength or a true
multiple of a half wavelength long at a particular frequency this is often referred to as a “repeater” line section, tending to mirror (or repeat) the impedance that is “seen” at the input, at the output.

Juga dari artikel/referensi tersebut kita bisa mempelajari dan mengenal bahwa APA YANG DISEBUT DENGAN “PANJANG COAXIAL” DISINI HARUSLAH JUGA TERMASUK ( MENGIKUTKAN ) PANJANG CONNECTOR2NYA ATAU SAMBUNGAN APAPUN YANG ADA SEPANJANG KABEL DARI ANTENNA SAMPAI KE SWR METER DIBAWAH.

Jadi kalau diantara panjang itu ada ( misalnya ) terpasang lightning arrester , atau sambungan connector ( misalnya kabelnya kependekan lalu pernah ditambahi panjangnya dengan sepotong kabel lain beserta connector2nya ) , maka semuanya harus dihitung sebagai bagian dari apa yang kita maksud dengan panjang coax itu.

Kelalaian menghitung itu ( terutama jika ada beberapa “sambungan” sepanjang kabel ) bisa menyebabkan kita salah hitung ketika menentukan “panjang kelipatan ½ lambda electric” itu. Pada UHF ( apalagi SHF ) kesalahan itu bisa menimbulkan akibat yang lebih “fatal” ( misalnya tanpa kita sadari coax kita malah menjadi matching transformer yang “kelipatan ganjil ¼ lambda electric” dsb. )

Bear in mind that in practice, you must account for the effective lengths of connectors
when developing practical networks of cables, subtracting these lengths from your actual cable measurements as appropriate.

Salam ,

Djoko Haryono.

CARA MUDAH DAN SIMPLE MODIF/GANTI TRANSISTOR FINAL CB C1969 DENGAN TRANSISTOR MOSFET

Potongan skematik bagian Penguat RF Linear radio CB seperti Colt 485, Colt 320, Lafayette 800, Lafayette 1200, Cobra GTL150 dan lain-lain, sebagai salah satu contoh untuk menjelaskan modifikasi ini, dan untuk tipe radio CB lain tidak terlalu jauh berbeda


Hallo rekan2 setia pengunjung blog Radio Tengkorak,

Salam terbaik untuk anda semua dan semoga tetap dalam keadaan baik dan masih mencintai hobinya masing2.

Untuk kali ini saya ingin mensharing pengalaman yang terjadi di lapangan dalam modifikasi/mengganti transistor final cb C1969 dengan transistor mosfet IRFZ 24 N dengan mudah dan simple, tapi hasil lumayan dengan power out tx 15 - 20 Watts setelah dilakukan pergantian transistor finalnnya.

Paling tidak hasilnya sama seperti sebelum diganti dengan transistor mosfet tetapi jauh lebih ekonomis jika  dibandingkan dengan harga transistor C1969, lagipula barangnya sudah sukar didapatkan di pasaran elektronik pada saat ini.

Sesuai judulnya pada artikel kali ini "Cara Mudah dan Simple Modif/Ganti Transistor Final CB C1969 dengan Transistor Mosfet"

Maka sengaja rangkaiannya saya buat simple, dalam artian tidak ada komponen tambahan untuk sistim regulator tegangan bias untuk kaki gate transistor mosfetnya seperti rangkaian yang umum dijumpai biasanya menggunakan ic regulator 7805 atau dioda zener 5 volts yang tegangannya bisa diatur dengan variable resistor sesuai keperluan, sebelum masuk ke kaki gate transistor mosfet.

Dan juga tidak ada rangkaian Companion Part disertakan pada kaki gate mosfetnya seperti artikel yang pernah dimuat di blog ini beberapa waktu lalu.

Alasannya agar tidak banyak merubah/menambahkan komponen pada rangkaian final radio cb.
Disini cukup hanya mengganti nilai sebuah resistor 10 ohm untuk tegangan bias kaki basis transistor final C1969 ( pada radio cb dengan nomor chassis PTBM121D4X), atau nomor chassis lainnya yang serupa untuk radio cb jenis Colt 485 Black Shadow, Colt320DX, Colt 320FM, Lafayette 800, Lafayette 1200FM, Cobra GTL150 dll.

Modifikasi ini berlaku juga untuk jenis2 radio cb tipe lainnya seperti Superstar 2000, 2200, 2400, Hygain V, Aries Super 120 dll, yang tidak bisa saya sebutkan semuanya disini karena kepanjangan namun mungkin untuk nilai resistor tegangan bias transistor finalnya sedikit berbeda-beda ada yang nilainya 10 ohm, 22 ohm, 27 ohm, 33 ohm dll.

Namun yang perlu diperhatikan pada jenis radio2 cb tipe tersebut diatas biasanya dilengkapi dengan sebuah dioda yang diparallel denga resistor tegangan bias ke arah groundnnya.

Maka kalau ada dioda tersebut kita harus melepasnya karena dengan dioda yang masih terpasang, sukar untuk memperoleh tegangan yang diinginkan untuk bias kaki gate mosfetnya.
 




Pada gambar diatas terlihat transistor final C1969 yang akan diganti dengan jenis transistor mosfet tipe IRFZ 24 N, yang pada gambar tsb ditandai denga lingkaran berwarna merah.

Demikian juga untuk resistor tegangan bias pada kaki basis transistor final C1969 ke ground yang nilainya 10 ohm harus diganti dengan nilai yang lebih besar seperti 56 ohm atau 68 ohm.

Mungkin nilai resistor tsb tidak mutlak harus 56 ohm atau 68 ohm, bisa saja berubah sesuai
hasil di tkp hehehe...

Tetapi dua nilai resistor tersebut adalah hasil yang saya dapatkan di tkp yang sudah dicoba beberapa kali dan selalu menunjukkan hasil yang sama.

Nilai resistor tersebut hanya untuk acuan awal saja, tetapi tujuan kita sebenarnya adalah untuk mendapatkan tegangan yang tepat sebesar 3.2 volts, untuk diberikan pada kaki gate mosfet  pada saat variable resistor/RV2 pada gambar tsb pada posisi maksimum ( catatan : pada nomor chassis seperti PTBM121D4X, posisi maksimum RV2 adalah diputar ke arah kiri habis  ), jadi kalau RV2 diputar berlawanan atau ke arah kanan, maka tegangan biasnya akan semakin mengecil.

Menimbang dan mengingat hehehe...kayak hakim sedang membacakan tutuntutan saja nih...
Menimbang rangkain ini tidak ada protek tegangan untuk bias kaki gate mosfet, maksudnya supaya simple dengan tidak adanya penambahan komponen seperti pembatas tegangan seperti pemakain ic regulator 7805 atau zener dioda 5volts, maka demi keamanan mosfetnya supaya tidak mudah jebol karena over voltage pada tegangan bias kaki gatenya.

Maka kita set tegangan bias mosfetnya maksimal  3.2 volts ( 3.2 volts adalah hasil dari beberapa percobaan di tkp dengan menggunakan berbagai tipe mosfet seperti IRF 510 N- 520 N - 530 N - 540 N, dan IRFZ 24 N dengan hasil sama adalah 3.2 volts untuk maksimal power out tx apabila digunakan pada final radio cb untuk menggantikan transistor C1969 ).

Set tegangan bias mosfet maksimal 3.2 volts pada saat posisi RV2 setelannya mentok diarah kiri/maksimal ( pada tipe radio cb yang saya sebut diatas ).

Tujuannya adalah, apabila kita mengatur/adjust VR2 nya memang maksimalnya pada nilai 3.2 volts, tidak bisa lebih lagi, dengan harapan mosfetnya tetap aman karena tidak ada spare lebih lagi tegangan biasnya dan kalau VR2 diputar ke kanan malah tegangannya akan mengecil, jadi aman kan...?

Jadi walaupun cara modifnya simple tapi keamanan untuk mosfetnya tetap terjaga supaya tidak mudah jebol walaupun harga mosfetnya cukup murah Rp 6000,- saja per buahnya di Denpasar, tapi kadang kita malas mengerjakannya kalau harus mengganti lagi mosfet yang jebol.

Bandingkan harga C1969 yang saat ini sukar didapat, walaupun ada harganya cukup lumanyun eh...maksudnya lumayan berkisar antara Rp 60.000 - Rp 80.000 bahkan mungkin bisa saja mencapai Rp 100.000 per buahnya ( menurut survey di tkp dan saya pernah beli juga di rekan2 memang harganya sekitar itu, dan kira2 sepuluh tahun kebelakang, saya masih ingat karena sering beli transistor tipe C1969 ini harganya cuma Rp 27.000 per buahnya di Denpasar.

Lha....kok jadi ngelantur ya...malah ngomongin harga transistor hehehe...:-)
Nggak apa2 ya...biar kesan tulisan artikelnya panjang, padahal pembahasannya sedikit saja :-)





Ok, rekan2 setia pengunjung blog RT, kita lanjut lagi ya...sharingnya.
Sekarang saya bahas triknya dalam mengerjakan/memasang mosfet.

Setelah kita lepas transistor C1969 yang akan diganti dengan mosfet, jangan dipasang dulu transistor mosfetnya, jadi biarkan kosongkan saja dulu tempatnya.

Tujuannya supaya mosfetnya tidak jebol sewaktu kita mengutak-atik/mencoba memasukkan tegangan biasnya, karena besaran tegangannya belum diketahui secara pasti.

Pada posisi VR2 mentok kearah kiri atau biasanya pada posisi ini adalah setelan maksimal tegangannya.

Lepas resistor niai 10 ohm dan ganti dengan 56 ohm, kemudian ukur tegangan di titik kaki untuk gate mosfet harus menunjukkan 3.2 volts.

Kalau hasilnya kurang dari 3.2 volts, coba ganti resistornya dengan yang lebih besar lagi atau 68 Ohm, dan sekarang ukur lagi tegangannya di titik kaki untuk gate mosfet.

Kalau sudah didapat tegangnnya 3 atau 3.2 volts sih sudah cukup dan biasanya menurut pengalaman saya di tkp, nilai resistornya kalau nggak pakai 56 ohm, pakai 68 ohm sudah tepat dapat tegangan 3.2 volts di titik kaki gate mosfet.

Sekarang apabila tegangan bias sudah didapat 3 atau 3.2 volts, kemudian baru bisa dipasang transistor mosfetnya seperti tipe IRFZ 24 N.


Sesuai pengalaman saya di tkp...bosan ah...bilang pengalaman di tkp terusssss hehehe....
Untuk mosfet tipe IRFZ 24 N adalah jenis mosfet yang paling bagus "sambil mengangkat dua jempol" jika dipakai untuk final radio cb mengantikan C1969, jika dibandingkan dengan tipe mosfet lainnya seperti tipe IRF510N-520N-530N-540N.

Bahkan pakai IRFZ 24 N, bisa didapatkan po tx lebih besar lagi hingga mencapai 20 watts lebih dibandingkan dengan C1969.

Wah...mudah2an didengar nih...sama pabriknya sipembuat IRFZ 24 N...biar saya dapat angpao karena ikut mengiklankan IRFZ 24 N hehehe...:-)




DOWNLOAD DATA SHEET IRFZ24N


Ada satu hal lagi yang saya sharingkan disini yaitu tolong diingat...itupun kalau anda percaya :-)
Pada waktu beli transistor mosfet apapun yang akan anda pakai untuk final tx atau akan anda kerjakan sebagai penguat rf, jangan sampai ketingggalan untuk menyebutkan huruf N dibelakang angka nya misal IRFZ 24 N, kalau anda diberi IRFZ 24 gundul orang brikeran bilang hehee...sama penjualnya jangan diterima, lebih baik pindah toko saja.

Karena menurut pengalaman di tkp...hehehe...pengalaman di tkp lagi tkp lagi...bosan ah....
dan melalui uji coba...kaya orang LIPI saja nih...ngomongnya :-)

Bahwa transistor mosfet yang dipakai untuk penguat rf tanpa ada huruf N dibelakang angkanya, tidak akan memberikan hasil yang maksimal bahkan sangat jauh dibawah hasilnya dibanding yang ada huruf N nya.

Ini terjadi pada saya sendiri, baru saja saya buang ( sombong dikit ah...) stok beberapa transistor mosfet seperti IRF510-520-530-540 dan IRFZ 24.

Mudah2an ini berguna untuk rekan2 setia pengunjung blog RT yang akan membeli transistor mosfet, tolong diingat ada huruf N nya untuk tujuan sebagai penguat RF.
 


...


Nah...pada gambar diatas, untuk yang kepepet apabila sukar lagi untuk mendapatkan transistor bagian driver radio cb tipe C2166.

Sama halnya seperti transistor final cb tipe C1969, dan transistor driver cb tipe C2166 pun sami mawon sukar didapatkan juga.

Apabila rekan2 menemukan jalan buntu sukar mendapatkan lagi transistor tipe C2166 tsb, bisa diganti juga dengan jenis mosfet tipe IRFZ 24 N.

Caranya sama seperti diatas, lepas dulu transistor C2166 nya kemudian ganti dulu resistor tegangan bias yang nilainya 33 ohm dengan 330 ohm, sebelum memasangkan mosfet IRFZ 24 N nya.

Kemudian ukur tegangan di titik untuk kaki gate mosfet harus maksimal 3.2 volts.
Setelah tegangan biasnya diperoleh tepat lalu sekarang bisa dipasangkan mosfet IRFZ 24 N nya.

Menurut uji coba di tkp...lagi2 tkp...hehehe...:-)

Hasil out power tx nya tidak sebesar hasil yang diperoleh jika masih menggunakan transistor C2166 untuk driver tx nya.

Tapi ini cukup lumayan lah...dari pada tidak ada solusinya dan bukankah sudah ada dan banyak radio2 cb baru, yang diproduksi sekarang sudah menggunakan transistor jenis mosfet pada bagian driver dan final txnya.


Selamat mencoba dan semoga sukses selalu.


Disclaimer :

Admin Radio Tengkorak tidak bertanggung jawab atas segala kerusakan yang mungkin terjadi pada radio CB anda, setelah anda melalukan modifikasi ini.



Salam terbaik,
Andi

Saturday, December 22, 2018

SPEECH PROCESSOR

SPEECH PROCESSOR

Hallo rekan2 setia pengunjung blog RT apa kabar nih...?
Semoga slalu dalam keadaan baik ya...dan sukses slalu.

Untuk artikel kali ini saya akan kembali mereview tentang Speech Processor yang pernah dimuat beberapa waktu lalu pada blog ini juga.

  • Artikel yang lalu tentang Mic Compressor/Speech Processor

Mengingat banyaknya antusias rekan2 yang ingin mencoba merakitnya sendiri, maka pada kesempatan ini saya tayangkan lagi skematiknya serta modifikasinya.



Gambar diatas merupakan contoh Speech Processor yang sudah jadi untuk keperluan/dipakai sendiri, memanfaatkan box bekas unit lain...atau bisa juga menggunakan box Echo Chamber yang banyak tersedia dipasaran, kalau anda malas membuat box khusus untuk Speech Processor ini.

Terlihat ada 5 buah knob untuk Volume, Bass, Treble, Out, juga saklar toggle 2 posisi untuk Compressor ON dan Compressor OFF.

Pada skematik awalnya potensiometer Out belum ditambahkan, dan sudah ditambahkan pada skematik modifikasinya ( bisa dilihat pada gambar berikutnya dibawah ).






Skematik Speech Processor



Skematik Speech Processor ( modifikasi )

Skematik Speech Processor diatas sudah dimodifikasi ditambahkan Potensiometer Out dan Saklar Compressor ON dan Compressor OFF, yang dikendalikan oleh 2 buah dioda tipe 1N4148 yang diberi tegangan positif arah maju bergantian sesuai posisi melalui saklar toggle 2 arah, posisi Comp. ON atau posisi Comp. OFF.

Salah satu dioda yang mendapatkan tegangan posisitif arah maju tadi akan melewatkan signal audio yang berasal dari Preamp Mic saja atau akan melewatkan signal audio yang melalui rangkaian compressor dengan ic uPC1158  tergantung posisi saklar toggle di posisi Comp. ON atau Comp. OFF.




Pada gambar diatas terlihat modifikasi/penambahan 2 buah  dioda 1N4148, 4 buah resistor dan 2 bh capasitor untuk posisi comp. ON dan Comp. OFF melalui saklar toggle 2 posisi, dipasang dibalik pcb, karena pcbnya sudah kadung dibuat sebelum ada modifikasi.

Hasil yang lebih baik ternyata dengan mengganti mic condenser dengan mic dynamic.
Menggunakan mic dynamic ternyata hasilnya lebih mantap, dengan noise yang lebih rendah dan bisa  lebih meredam suara2 background yang masuk, sehingga suara angin ciri khas dari Speech Processor yang mengiringi audio kita lebih lembut.

Untuk Limiter bisa tetap mengguakan Trimmer Potensio ( Trimpot ), dan untuk Volume, Bass, Treble dan Out menggunakan potensiometer.


PCB Update
Gambar2 berikut dibawah ini Speech Processor sudah menggunakan pcb yang sudah diupdate atau sudah ditambahkan saklar untuk Compressor ON/OFF sesuai dengan skema diatas Speech Processor ( modifikasi ).
Untuk keleluasaan dalam pengaturan LIMITER maka sengaja potensiometer LIMITER ditampilkan juga pada cover depan.

LIMITER berfungsi untuk membatasi output audio disaat Compressor ON, atau audio yang keluar bisa kita atur seberapa besar yang kita butuhkan untuk suatu transceiver supaya hasil audio modulasinya tidak cacat/over modulation saat kita berbicara terlalu keras/berteriak.

Sedangkan Compressornya sendiri berfungsi untuk menekan audio yang  lemah yang datang dari microphone saat kita berbicara menjauh dari microphone, supaya level output audio speech processor ini konstan.

Jadi kesimpulannya fungsi Compressor dan Limiter ini adalah sbb Mafaat Obat Herbal Tradisional dari bagiannya:
Speech Processor atau Compressornya sendiri berfungsi untuk menekan atau menguatkan audio yang     pelan/lemah yang datang dari microphone supaya level output audio tetap keras/kencang.

Sedangkan Limiternya berfungsi untuk membatasi level output audio supaya tidak cacat atau over modulasi setelah Speech Processor ini dipasang pada radio/transceiver.











Happy homebrewing and good luck

MENGGANTI TRANSISTOR MOSFET RM KL - 203 DENGAN IRF520

MENGGANTI TRANSISTOR MOSFET RM KL - 203 DENGAN IRF520


RM KL-203 MOSFET Linear Amplifier.
  • 0.5W - 10W AM/FM, 1 - 20W SSB input
  • Up to 100W AM/FM 200W SSB output
  • 13.8V DC
  • Switchable SSB Delay Relay
Frequency 18-30 MHz (Europe)
Supply 12-14 Vcc
Input energy/power 10 A
Input power 0,5-10 W
Input power SSB 1-20 W
Output power 100 W Max
Output power SSB 200 W pep Max
Mode AM-FM-SSB-CW
Fuse 12 A
Output power level 1
Size 109x125x35 mm
Weight 325 gr.






KL-203 adalah penguat daya RF atau biasa dibilang booster untuk 27MHz dengan power output sekitar 100 watts.

Bentuk fisik dari KL-203 ini cukup kecil dan ringan sehingga bisa dimasukkan ke kantong jaket dan cocok untuk dipasangkan dengan berbagai macam radio cb yang mempunyai output standard dari 10 - 12 watts.






KL-203 ini memakai transistor jenis N-Mosfet sebanyak 4 buah yang bekerja pushpull dan dipasang secara parallel 2 di kiri dan 2 di kanan trafo balunnya.

Untuk tipe ke 4 buah transistor mosfetnya secara pasti bawaan dari pabriknya tidak diketahui karena memang tidak nampak lagi pada badan mosfetnya karena sengaja dikerik tipenya.

Tapi jangan khawatir saya akan sharing info disini, ternyata bisa digantikan dengan IRF520 dengan hasil yang sama untuk power output nya yaitu sekitar 100 watts.

Saya pernah mengganti ke 4 buah transistor mosfetnya yang jebol akibat over heating dengan IRF520 dan ternyata hasilnya ok sama seperti semula sebelum jebol.

Nah...apabila rekan2 mengalami kasus yang sama dengan saya yang punya KL-203 nya jebol, ganti saja dengan IRF520.


Selamat mencoba dan salam terbaik

MATCHING DEVICE ¼ LAMBDA , PANJANGNYA TIDAK SELALU HARUS ¼ LAMBDA.



MATCHING DEVICE ¼ LAMBDA , PANJANGNYA TIDAK SELALU HARUS ¼ LAMBDA.



MATCHING DEVICE ¼ LAMBDA , PANJANGNYA TIDAK SELALU HARUS ¼ LAMBDA.
By : Djoko Haryono

“Peralatan matching ¼ lambda” ( quarter wave matching device ) dengan bermacam versi bentuknya , apakah yang dibuat dari sepotong kabel coax ¼ lambda , atau dari bahan pipa kaku sebagai outer/selongsongnya , atau berupa power divider pipa segi 4 , adalah impedance transformer atau peralatan matching yang sangat populer karena sederhana dan mudah dibuat.

Peralatan matching ¼ lambda pertama kali diperkenalkan oleh seorang ham / amatir radio FRANK REGIER ( Callsign OD5CG ) dalam publikasi pertamanya di tahun 1970 dalam buku ARRL Antenna.

Meski kebanyakan ( atau “hampir semua” ) matching transformer ( yang impedansinya bisa juga dihitung agar berfungsi sebagai divider / combiner ) dibuat dengan ukuran panjang ¼ lambda , tetapi TAHUKAH ANDA BAHWA PERALATAN MATCHING ¼ LAMBDA ITU PANJANGNYA TIDAK HARUS ¼ LAMBDA ?

Penjelasannya begini :

01
Peralatan tsb. sebagian besar / kebanyakan dibuat dengan panjang ( dalam sistem pecahan ) ¼ lambda alias ( dalam sistem decimal ) 0.25 lambda , atau bisa juga kita sebut ( dalam sudut siklus gelombang radio ) panjangnya 90 derajat.

Ukuran panjang ¼ lambda itu sebetulnya hanyalah ukuran paling praktis atau ukuran “rata-rata”dimana pada jarak atau panjang tersebut akan muncul dan terjadi efek transformasi impedansi pada kabel saluran transmisi.

Dengan kata lain , kalau kita membuat / memotong panjang coaxnya ( atau pipa jika transformernya dibuat dari pipa ) LANGSUNG TEPAT ¼ LAMBDA , maka umumnya alat tsb. juga ( sudah / akan ) LANGSUNG BISA BEKERJA DENGAN CUKUP BAIK. Kalaupun ada kekurang cocokan , misalnya impedansi yang dihasilkan belum benar2 menghasilkan perfect match , ataupun misalnya panjang alat tsb. –supaya menghasilkan matching sempurna 100% - ternyata seharusnya tidak tepat ¼ lambda , ternyata ( kalau memang terjadi / ada ) kemelesetan itu umumnya masih bisa ditoleransi dan hasil dari pemasangan matching device ¼ lamda itu seringkali sudah bisa kita anggap sebagai SUDAH MATCH atau SUDAH CUKUP MATCH.

02
Namun tidak semua ham selalu membuat matching device yang panjangnya tepat ¼ lambda ketika ia merasa perlu membuat device ¼ lambda.

Sebagian ham ( yang sudah semakin mendalami pengetahuan tentang antenna & saluran transmisi , dan umumnya adalah para ham senior yang cermat banyak mempelajari masalah gelombang dengan lebih detil ) terkadang SENGAJA MEMBUAT MATCHING DEVICE 1/4 LAMBDA ( = 0.25 LAMBDA ) YANG PANJANGNYA TIDAK 0.25 LAMBDA , tetapi mungkin sengaja dibuat 0.27 lambda , atau 0.29 lambda , 0.32 lambda , 0.22 lambda , 0.21 lambda dsb.

Pada kasus2 tertentu , angka2 ukuran panjang yang BUKAN ¼ LAMBDA itu , setelah didahului dengan perhitungan2 yang lebih cermat , justru mereka temukan SEBAGAI UKURAN PANJANG YANG LEBIH TEPAT ( DIBANDINGKAN DENGAN ¼ LAMBDA ) YANG MENGHASILKAN IMPEDANSI YANG LEBIH “PERSIS”/MATCH DARIPADA JIKA MENGGUNAKAN ¼ LAMBDA.

03
Mengapa ukuran panjang yang “tidak persis” ¼ lambda itu seringkali / terkadang lebih baik dibanding dengan kalau ¼ lambda ? HAL ITU KARENA PANJANG TERTENTU PADA COAXIAL ( ATAU JARAK TERTENTU DALAM “LAMBDA” MAUPUN DALAM SUDUT ) MEMILIKI PENGARUH DAN ADA HUBUNGANNYA DENGAN TRANSFORMASI IMPEDANSI.

Sehingga , jika ketika kita sedang mendesign matching transformer ternyata impedansi yang “dihasilkan” sedikit meleset dan tidak tepat memenuhi besaran impedansi yang kita harapkan , SEBENARNYA SOLUSINYA SEDERHANA SAJA , YAITU YANG KITA BUTUHKAN HANYALAH SEKEDAR “MENGGESER” ALIAS MERUBAH PANJANG COAX ATAU MATCHING DEVISE , KEARAH UKURAN PANJANG “DIMANA IMPEDANSI YANG KITA INGINKAN ITU BERADA”.

Tentu saja perubahan panjang coax / device itu bisa menjadi “lebih panjang” dari ¼ lambda , ataupun menjadi “kurang / lebih pendek” dari ¼ lambda , SEMUANYA TERGANTUNG APAKAH POSISI PERTAMA KITA TADI KURANG INDUKTIF ATAUKAH KURANG KAPASITIF.

Kalau arah kita “menggeser” tsb. keliru , tentu saja hasilnya akan makin buruk ( makin menjauh dari perfect match ) , tapi kalau arahnya benar , kita akan mendapatkan kondisi matching yg lebih baik daripada ¼ lambda.

Para ham yang menggeluti komunikasi radio pantulan (permukaan ) bulan ( Moonbounce / Earth Moon Earth / EME communication ) maupun para teknisi radio yang sering mempraktekkan Conjugate Matching , sering membuat matching device yang PANJANGNYA TIDAK PERSIS ¼ LAMBDA.

Kita bisa merancang ( = menghitung ) matching device semacam itu dengan bantuan ( menggunakan ) Smith Chart.

Atau mempelajari pengetahuan basicnya dari berbagai referensi.

Karena saya bukan seorang ham senior , maka kalau ingin mengetahui dasar2 pengetahuannya , silahkan mempelajarinya sendiri dari salah satu referensi yang saya pilihkan dibawah ini , yaitu apa yang ditulis oleh seorang ham yang sudah sangat dikenal didunia , W4RNL ( L.B. Cebik ) berikut ini.

Djoko Haryono / 19 Januari 2015

WHEN QUARTER WAVE IS NOT QUARTER WAVE

TRIMMING YAESU FT- 80C AGAR POWER OUT TX MAKSIMAL

TRIMMING YAESU FT- 80C AGAR POWER OUT TX MAKSIMAL




T14 - T19 : IF TX yang perlu di trim untuk memaksimalkan PO TX



 Trimming VR10 : PO TX, VR12 : PO TX Meter

Hallo rekan2 semua pengunjung setia blog RT, rasanya sudah lama saya tidak sharing info mengenai masalah2 yang berhubungan dengan hobi kita ini, dikarenakan kesibukan kesehari-harian.

Tapi kali ini saya ingin mencoba sharing info lagi ditengah-tengah kesibukan kesehari-harian ini mengenai Trimming Yaesu FT80C agar PO Out TX maksimal.

Berawal dari pertanyaan dari beberapa rekan pengunjung setia blog RT ini yang menanyakan ke saya melalui telp, sms dan email maupun bbm, tentang "Bagaimana caranya membesarkan/memaksimalkan Power Out TX radio Yaesu FT80C ?"

Atau istilah yang sering kita dengar dikalangan para penghobi radio amatir ini adalah MEMLINTIR...hehehe..."Bagaimana caranya memlintir FT80C agar maksimal power tx nya ?"
Apalah sebutan/istilahnya, mlintir, plintir, trim, adjust, tune dll, yang jelas maksudnya sama.

Seperti yang diperlihatkan pada gambar2 diatas, adalah bagian2 yang perlu diplintir untuk memaksimalkan po tx nya.

T14, T15, T16, T17, T18 dan T19 adalah coil IF TX, yang perlu diplintir ulang kalau dirasa po out tx nya kurang maksimal, karena mungkin pengaruh pergeseran atau getaran mekanis terhadap radio sehinggga setelan yang sudah tepat sejak dari pabriknya beberapa tahun lalu sudah mengalami perubahan jadi kurang tepat lagi, atau memang secara tidak sengaja keplintir sebelumnya.

Sedangkan VR06 adalah setelan untuk PO TX mode AM ( tidak berpengaruh pada mode lain selain mode AM )
Putar VR06 ini sesuai mau berapa watt PO TX AM nya mau dikeluarkan, tapi menurut rekomendasinya atau sesuai speknya FT80C, untuk mode AM PO TX nya 25 Watts saja.
Kalau mau menuruti speknya putar saja VR06 ini sampai mencapai 25 Watts yang ditunjukkan oleh bantuan alat ukur Wattmeter dan Dummyload.

VR10 adalah setelan untuk PO TX ( berpengaruh pada semua mode AM, CW, LSB, USB )
Putar VR10 ini full kekanan/searah jarum jam untuk po tx maksimal (100 Watts ).

Kemudian VR12 adalah setelan PO TX Meter.
Putar ulang VR12 ini, kalau dirasa jarum penunjukan po tx terlalu mentok kekanan jarumnya, supaya jarumnya tidak cepat bengkok.

CATATAN :
Lakukan penyetelan ulang VR06, VR12, sesudah selesai pengetriman T14-T19. Supaya PO TX nya maksimal dulu biar sekali saja dan pas  penyetelan VR06 dan VR12 ini.


CARA TRIMMING PO TX :
Pengetriman ini akan berpengaruh pada PO TX keseluruhan, maksudnya berpengaruh terhadap semua mode AM, CW, LSB, USB.
Buka cover bagian atas radio, maka akan terlihat unit Main Board yang seperti terlihat pada gambar diatas.

Dengan bantuan Wattmeter dan Dummyload, set frekwensi FT80C pada 14.200MHz dengan mode CW, kemudian sebagai pengganti saklar ptt pada mic, tekan saja tombol MOX dan trim coil IF TX, T14 - T19 yang letaknya sesuai pada gambar diatas.

Terutama untuk T17, T18, T19 gunakan obeng trim khusus yang gagangnya dari plastik, karena coil ini sensitif terhadap bodi kita agar tepat waktu ngetrimnya.

Kalau dirasa sudah cukup maksimal  po tx nya atau sesuai dengan yang ditunjukkan pada wattmeter, kemudian trim ulang VR10, pastikan posisinya maksimal mentok kekanan dan VR12 juga perlu di trim ulang untuk keselarasan penunjukan jarum po tx nya biar pas tidak terlalu nabrak2 dinding vu meter sebelah kanan sampai bunyi jeplak2...khawatir cepat bengkok jarumnya.

Setelan yang ideal adalah waktu kita berbicara yang paling keras di microphone, jarum harus menunjukkan tepat pada batas akhir skala PO TX Meter, atau diatas angka 10 sebelum batas akhir skala.

PO TX MODE AM :
Pengetriman ini tidak berpengaruh pada mode lain selain mode AM.
Set frekwensi pada 14.200MHz, dengan mode AM, kemudian tekan tombol MOX dan setel VR06 sampai menunjukkan 20-25 Watts pada Wattmeter dan Dummyload.
PO TX AM 20-25 Watts adalah sesuai speknya FT80C dan sebenarnya kalau diperlukan PO TX AM lebih besar lagi bisa ditingkatkan lagi dengan menyetel VR06 nya sampai 100Watts juga.

Sampai disini dulu rekan2 semua mengenai sharing info dari saya mengenai Trimming Yaesu FT80C agar Power Out TX Maksimal.

Sebenarnya masih banyak cara trimming2 bagian lainnya pada FT80C ini, namun yang saya sampaikan kali ini hanya cara trimming yang ada hubungannya saja dengan PO TX dan sengaja saya tidak membahas lebih dalam lagi untuk ngetrim VR yang ada dalam blok Power RF Linearnya/blok Final TX nya. Untuk menghindari resiko yang fatal karena salah trim, bisa menjebolkan transistor finalnya, karena ada hubungannya dengan setelan proteksinya transistor final tx.

Saya lebih suka jangan mengutak-atik setelan asli dari pabriknya untuk masalah dalam blok Power RF Linearnya. biarkan saja seperti aslinya.

Kita tadi hanya melakukan trimming bagian IF TX nya saja biar maksimal potx nya sebelum diumpankan pada bagian blok Power RF Linearnya dan jelas akan meningkatkan PO TX nya juga secara keseluruhan.

Selamat mencoba dan semoga sukses.

Salam terbaik



Disclaimer :

Admin Radio Tengkorak tidak bertanggung jawab atas segala kerusakan yang mungkin terjadi pada radio Yaesu FT80C anda, setelah anda melalukan pengetriman ini.

Popular Posts

Total Pageviews

RADIO Web 2. Powered by Blogger.